Maybe, distance that make it darknest!

cartoon-drawing-girl-pretty-rain-Favim.com-328655_thumb

Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku terbaring diatas tempat tidurku, mencoba memejamkan mata seraya berusaha membuat diriku tertidur. Namun aku tetap terjaga. Entah mengapa, rasanya malam ini sulit sekali untuk memejamkan mata dan tidur pulas. Aku menggeliat, mengerjap – ngerjapkan mata, lalu duduk ditepian tempat tidurku. Pikiranku kembali menerawang. Teringat kembali kenanganku bersama Rian.

Andrian. Atau sering ku panggil dengan Rian. Cowok pertama yang telah merubah hari – hariku yang biasa menjadi lebih bermakna. Cowok yang pertama kali ku temui di toko buku langganan ku dekat sekolah.

Sejak beberapa kali bertemu di toko buku yang sama, kami mulai akrab. Hampir tiap hari kami merencanakan untuk bertemu di starbucks. Walau sebentar kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Aku semakin simpati padanya, anaknya cool banget! Sense of humornya juga tinggi,

Sebulan kemudian, tak ku sangka Rian telah menjadi murid baru di sekolahku. Ada rasa bahagia ketika dia mengatakan “semua ini karena aku ingin dekat dengan kamu!”

***

Pagi  ini. Suasana kelas masih sepi. Hari memang masih sangat pagi, masih ada 30 menit lagi bel masuk. Barangkali baru Luna seorang yang datang. Biasanya memang begitu. Resiko punya rumah yang jauh, jika tidak kepagian, ya kesiangan. Tentu lebih baik memilih yang pertama daripada beresiko dikemudian hari.

“Pagi, ,Luna” tegur Rian ramah. Ranselnya segera dia letakkan. Dia duduk menghadap Luna. “kamu makin manis aja,” pujinya.

Jantung Luna makin bergedup tak menentu. Jemarinya pun gemetar walau dengan voltase yang rendah. Intonasi itu bikin hatinya nggak karu-karuan.

Hanya ada mereka berdua di kelas saat itu.

Sekejap hening, namun beberapa saat Rian bereaksi.

Tak sungkan – sungkan Rian meraih kedua tangan Luna, lalu di genggamnya. Seketika gemetar Luna  hilang berkat arus hangat yang mengalir.

“Lun, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu. Tapi ku mohon kamu jangan marah jika menurutmu semuanya terlalu cepat.” Ungkap Rian.

“Maksudmu?” aku mengerutkan alis.

“Aku ingin menjalinnya bersamamu mulai hari  ini, menjadi kekasih hatimu”.

Luna menatap Rian tak  berkedip. Ia menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.

“kita masih terlalu cepat untuk memulainya,” jawabku.

“This.. just having fun. Jangan menganggapnya terlalu serius. Toh kita bukan membicarakan rencana pernikahan dini.”

Muka Luna merah padam.

Luna mengerjap – ngerjap. Dia mengangguk perlahan.

***

Sebulan, dua bulan, tiga bulan dan seterusnya Rian rutin datang di sabtu malam. Nyaris tak bisa di hitung dengan jari tangan, berapa kali datang ke rumah selama seminggu. Sehari bisa tiga kali. Pagi saat aku dijemput ke sekolah, Siang setelah antar aku pulang sekolah, trus sore mengajakku menikmati matahari tenggelam di pantai, setelah sampai di rumah, meski pergi seharian, dia bisa nelfon lagi dan kami akan ngobrol tentang banyak hal. Rian pun sering ngobrol santai sama Mama dan Papa. Semua terasa bahagia ketika kehadiran Rian di sisiku. Dunia begitu terasa sangat indah.

Hubunganku dengan Rian berjalan dengan sangat mulus kecuali jika tiba-tiba ada penggangu. Aku tahu di sekolah banyak pasangan yang iri dengan kami dan salah satunya adalah sahabatku Dian. Namun aku tak pernah ambil pusing, kuanggap mereka hanya iri dengan kemesraan kami.

 

***

“Setahun telah berlalu. Hari – hari yang ku lalui begitu hampa. Kepergian dirimu membuat hatiku gelisah. karena rindu yang pernah kau titipkan, sampai kini tak kuasa aku alihkan. Aku merindukanmu yang jauh di sana!”

Ku kirimkan message itu di nomer Rian. Selang beberapa menit kemudian Rian membalas SMS ku “Lun, minggu depan aku nggak jadi balik ke Makassar, liburan semester di tunda sampai bulan depan. Maafkan aku”.

Ada perasaan bahagia campur sedih ketika kubaca SMS  itu.

“Tumben SMS ku dibalas” batinku.

Ya, setelah lulus dari SMA, Rian melanjutkan pendidikannya di Bandung. Aku sebagai kekasihnya sejak SMA awalnya tak menerima Rian harus meninggalkanku. Tapi Rian berusaha menjelaskan semuanya kepadaku, kedewasaannya membuatku merelakan dia pergi menuntut ilmu dan tentunya bertahan sampai saat ini.

Namun semuanya tak seindah dulu lagi. Ada yang berbeda dalam hati ini. Aku merasakan ada yang berbeda dari sikap Rian terhadapku.

Rian sudah jarang menghubungiku. Menanyakan tentang kabarku. Fikirku mungkin Rian sedang sibuk dengan study-nya, tapi sesibuk apakah dia disana bahkan tak pernah mengangkat telefon dariku, membalas SMS ku, e-mail ku. Bahkan sebulan terkahir Rian tak pernah memanggilku dengan sebutan “sayang”.

Mungkinkah Rian sudah bosan terhadapku? atau L.D.R membuatnya tak lagi menginginkanku di sampingnya? atau Rian sudah menemukan kekasih yang baru? banyak tanya namun aku tak tahu siapa yang akan menjawabnya.

***

Eh, dia sedang on line! Luna terdiam sejenak. Masuk nggak ya? Dia menimbang- nimbang. Akhirnya dia putuskan untuk bergabung.

“sayang, lagi dimana? Udah makan?” klik. Sent.

Lima menit menunggu Rian belum membalas chat-ku.

“sayang!” klik sent.

“kenapa sih kamu nggak bisa sedikit saja nggak ganggu hidup aku lagi.” langsung dijawab. Lalu lintas di duna maya sedang tidak bermasalah kayaknya.

Astaga! Batin Rian.

“kok kamu ngomong gitu?” klik

“Kamu kenapa?” Klik

“Kalau udah bosan dengan aku, tinggal bilang ajah?” klik

“kita putus sekarang” kali ini berasal dari Rian.

“aku nggak sanggup menjalani hubungan jarak jauh kayak gini lagi”.

Ada yang jatuh dari dalam hatiku. Lalu aku merasa ada yang sakit, entah bagian mana. Luna segera offline. Dia tidak tahu di seberang sana Rian sedang menikmati makan siangnya bersama seorang wanita tanpa memikirkan perasaan Luna.

Luna bangkit dari tempat duduknya dan mengambil ponselnya, menelfon Rian berharap apa yang barusan terjadi hanya sebagian dari lelucon Rian.

“Halo!”

Rian terdiam.

“Halo!” kata seorang wanita dari seberang sana.

“ini siapa ?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Aku Dian, kekasihnya Rian. Rian lagi….” belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya Luna menutup telefonnya.

Celakanya, menelfon Rian bukan mendapat penjelasan darinya, Luna hanya dapat mendengar suara sahabatnya Dian. Lidahku seakan keluh… sekelebat kenangan bersamanya selama ini menari di mataku. Tapi ternyata, hanya berarti buat aku. Tidak berarti untuknya.

***

“Lun.. malam – malam begini melamun ?” lamunanku buyar! mama  duduk disampingku. Menatapku sekilas, mengembangkan senyum tipisnya. Sesuatu disodorkannya padaku, segelas susu hangat. Mama langsung beranjak dari tempat tidurku. Seakan mengerti bahwa aku tak ingin banyak bicara dulu.

Butiran Kristal bening kembali mengalir dari sudut mata Luna. Setahun setelah kejadian itu tapi ia masih belum mampu menghapus kenangan buruk itu di benaknya. Janji Rian  untuk setia tak ditepati. Entah mengapa, permintaan maafpun tak pernah ia sampaikan. Hati Luna begitu perih, dan luka hati itu masih terus menganga sampai detik ini, saat ia berada dalam kesendiriannya.

Dark.

***

Created by

Nurul khairun nisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s